Sabtu, 29 Agustus 2009

Hadits-Hadits Dhoif Yang Populer Di Bulan Ramadhan

Hadits-Hadits Dhoif Yang Populer Di Bulan Ramadhan PDF E-mail
Written by Redaksi Belajar Islam
Friday, 21 August 2009 13:31

بسم الله الرحمن الرحيم

Ramadhan adalah bulan yang mulia, momen yang tepat untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya dari Rabb Yang Maha Pemurah. Pada bulan ini jiwa dan hati para hamba Allah menjadi tunduk dan lembut untuk melakukan berbagai macam ibadah yang disyariatkan. Karena itu sepatutnya para ustadz, da'i, muballigh dan setiap kita memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini. Namun demikian ada fenomena sangat menyedihkan yang sering terjadi di bulan suci ini yaitu tersebarnya hadits-hadits yang lemah melalui mimbar-mimbar mesjid dan majelis-majelis ta'lim. Hal ini banyak disebabkan karena kurangnya pengetahuan para da'i akan kelemahan hadits-hadits tersebut. Semoga tulisan ini mampu menjadi peringatan bagi kita untuk tidak ikut andil dalam penyebaran hadits-hadits yang lemah, agar kita tidak terjatuh dalam salah satu dosa besar yaitu berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. Sebagai catatan penting bahwa diantara hadits yang kami sebutkan ini ada yang kandungan matannya memiliki makna yang benar, namun hal itu tidak menjadi alasan untuk mengatasnamakan perkataan tersebut kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, karena beliau pernah bersabda:

[ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ [ رواه البخاري

"Barangsiapa yang berkata atas namaku sesuatu yang tidak pernah aku katakan maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka" (HR. Bukhari dalam Shohihnya; Kitab Al 'Ilm, Bab Itsmu Man Kadzaba 'alan Nabi, no 109)

Berikut ini beberapa contoh hadits-hadits lemah yang sering kita dengarkan dalam bulan Ramadhan :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُوْ بِبُلُوْغِ رَمَضَانَ , فَكَانَ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَجَبٍ قَالَ : [ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ ] ( رَوَاهُ أحمد والطَّبْرَانِيُّ فِي الْمُعْجَمِ الْأَوْسَطِ واللفظ له

1. Dari Anas radhiyallohu anhu adalah Nabi shallallohu alaihi wasallam berdoa agar diperjumpakan dengan bulan Ramadhan, maka jika beliau sudah berada di bulan Rajab, beliau berdoa: "Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban serta perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan" [ HR. Ahmad (2342) dan Thobrani dalam Al Mu'jam al Awsath (4/149/no.3939); lafal hadits ini bagi beliau ]

Penjelasan :

Dalam sanad hadits ini ada dua perowi yang lemah; Pertama : Zaidah bin Abu Ruqad Al Bahili; dia seorang yang munkarul hadits (haditsnya mungkar) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhari, Nasai dan Al Hafizh Ibnu Hajar. Kedua : Ziyad bin Abdullah An Numairi dia seorang yang dinilai lemah oleh Imam Yahya Bin Ma'in, Abu Daud dan Al Hafizh Ibnu Hajar. Abu Hatim berkata : Haditsnya boleh ditulis namun tidak dijadikan sebagai hujjah.
Namun demikian bukan berarti kita tidak boleh berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan, bahkan Ibnu Rajab Al Hanbali menukil dari Mu'alla bin Fadhl yang menyebutkan bahwa kaum salaf terdahulu berdoa selama enam bulan sebelumnya agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan, kemudian berdoa pada enam bulan berikutnya agar Allah Azza wa Jalla menerima amalan-amalan mereka di bulan tersebut. (Lihat : Lathoif Al Ma'aarif, hal 280)


2- عَنْ سَلْمَانَ رضي الله عنه قَالَ :خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ , قال : [ أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ..., وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ,... ] ( رواه ابن خزيمة )

2. Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Salman radhiyallohu anhu beliau berkata : Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berkhutbah pada hari terakhir di bulan Sya'ban, beliau bersabda : "Wahai sekalian manusia kalian telah dinaungi bulan agung nan diberkahi ...,bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya magfirah (pengampunan) dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka…." ] HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya (3/191 no.1887) ]

Penjelasan :

Hadits ini lemah, Ibnu Khuzaimah sendiri telah mengisyaratkan hal itu, karenanya beliau memberi judul hadits ini : "Keutamaan bulan Ramadhan jika haditsnya shohih". Hadits ini juga diriwayatkan oleh Baihaqi. Dalam isnadnya ada kelemahan, padanya ada Abul Hasan Ali bin Zaid bin Ju'dan At Taymi dan dia adalah seorang yang lemah menurut para Imam ahli hadits seperti Imam Ahmad, Yahya bin Ma'in dan Yahya bin Said Al Qaththan rahimahumullohu ta'ala jami'an. Abu Hatim mengatakan bahwa hadits ini mungkar sebagaimana yang dinukil oleh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Adh Dho'ifah (871)

Dari segi matan, makna hadits ini pun tidak tepat karena seolah-olah memberi pengertian bahwa rahmat Allah hanya terkhusus pada 1/3 awal dari Ramadhan, maghfirah pada 1/3 pertengahan dan pembebasan dari api neraka hanya terkhusus pada 1/3 akhir dan makna hadits ini bertentangan dengan beberapa hadits shohih yang menunjukkan bahwa rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka terdapat dalam sepanjang bulan Ramadhan . Perhatikan hadits-hadits berikut :

أ- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : [ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ ] ( رواه مسلم )

a. Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata : Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Jika datang bulan Ramadhan terbukalah pintu-pintu rahmat, tertutup pintu-pintu neraka dan para syaitan terbelenggu" ( HR.Muslim dalam Shohihnya, Kitab Ash Shiyam, Bab Fadhl Syahri Ramadhan no.1079 )

ب- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : [ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ], و في رواية : [ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ] متفق عليه

b. Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang mengerjakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) dilandasi keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah maka diampunkan baginya dosa yang telah lampau", dalam riwayat yang lain : "Barangsiapa yang mengerjakan puasa di bulan Ramadhan dilandasi keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah maka diampunkan baginya dosa yang telah lampau" [ HR.Bukhori dalam Shohihnya, Kitab Al Iman no.37,38 dan Muslim dalam Shohihnya (760) ]

ج- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : [ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ ]

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata : Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Apabila telah masuk malam pertama di bulan Ramadhan maka syaitan dan jin pengganggu terbelenggu, pintu-pintu neraka tertutup tidak satupun terbuka darinya, pintu-pintu surga terbuka tidak satupun tertutup darinya, ada malaikat yang akan menyeru : "Wahai para pencari kebaikan menujulah (kebaikan tsb), wahai para pencari kejahatan berhentilah (dari kejahatan) dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari api neraka dan ini terjadi di setiap malam bulan Ramadhan" ( HR.Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Ash Shaum 'an Rasulillah, Bab Maa Jaa Fi Fadhli Syahri Ramadhan, no 683 )

Ketiga hadits di atas secara gamblang menunjukkan bahwa rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka berlaku di sepanjang bulan Ramadhan. Wallohu A'lam.


3- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : [ مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ ] ( رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وأحمد والدارمي )

3. Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata : Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang berbuka sehari di bulan Ramadhan tanpa adanya rukhshah (keringanan/udzur yang dibenarkan syariat) dan tidak pula karena sakit maka dia tidak bisa mengqadha ( mengganti utang puasa tersebut ) walaupun dia berpuasa setahun penuh" [ HR. Tirmidzi (723), Abu Daud (2396), Ibnu Majah (1672), Ahmad (8787) dan Darimi (1666) ]

Penjelasan :

Hadits ini lemah; Imam Bukhari telah meriwayatkannya secara mu'allaq dengan sighah tamridh (bentuk periwayatan yang menunjukkan adanya kelemahan pada hadits). Imam Tirmidzi mengatakan : Saya telah mendengar Muhammad (yaitu Imam Bukhari) berkata : Abul Muthawwis namanya adalah Yazid bin Al Muthawwis, dan saya tidak mengenalinya kecuali pada hadits ini. Imam Ibnu Hibban mengatakan tidak boleh berhujjah dengan riwayatnya yang dia bersendirian padanya. Al Hafizh Ibnu Hajar menilainya sebagai seorang yang layyinul hadits (haditsnya lembek), beliau menyebutkan dua 'illah (cacat) lain dari hadits ini yaitu adanya ikhtilaf yang banyak dalam periwayatan Habib bin Abu Tsabit berarti haditsnya mudhtharib (guncang) kemudian 'illah yang ketiga para ulama meragukan apakah Muthawwis memdengarkan langsung dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu atau tidak. Hadits ini telah dilemahkan pula oleh Al 'Allamah Al Albani rahimahullah dalam beberapa kitab beliau diantaranya : Dhoif Sunan Abi Daud (517), Dhoif Al Jami' Ash Shogir (5642) dan dalam takhrij Al Misykah (1/626 no. 2013)
Adapun makna dari hadits ini maka sebagian ulama berpegang padanya seperti Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Mas'ud dan Abu Hurairah radhiyallohu anhum dimana mereka mengatakan bahwa orang yang berbuka dengan sengaja tidak diterima puasa qadha'nya walaupun dia membayarnya sepanjang tahun, ulama salaf lainnya seperti Said bin Musayyib, Said bin Jubair dan Qatadah tetap membolehkan mengqadha' puasanya sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkannya tentu saja diiringi dengan taubat yang nasuha. Wallohu A'lam [ Lihat : Tuhfatul Ahwadzi (3/341) dan Aunul Ma'bud (7/21) ]


4- عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : "رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَا لَا أُحْصِي يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ" ( رواه الترمذي و أبو داود و الدارقطني و البيهقي )

4. Dari 'Amir bin Rabi'ah radhiyallohu anhu berkata : "Saya telah melihat Nabi shallallohu alaihi wasallam bersiwak dalam jumlah yang tidak mampu saya hitung padahal beliau sementara berpuasa" [HR. Tirmidzi (116), Abu Daud (2634), Daraquthni dan Baihaqi (4/272)]

Penjelasan :

Hadits ini lemah sanadnya; diriwayatkan oleh para imam yang disebutkan di atas dari jalur 'Ashim bin Ubaidullah dari Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah dari ayahnya. Imam Ad Daraquthni berkata : Ashim bin Ubaidullah dan selainnya lebih kuat darinya. Baihaqi berkata : Dia bukan seorang yang kuat. Ulama-ulama lain seperti Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in dan Muhammad bin Sa'ad juga telah membicarakannya. Bukhari berkata : Munkarul hadits (haditsnya mungkar). Al Hafizh Ibnu Hajar juga menilainya sebagai seorang yang dhaif.
Namun hal ini tidaklah berarti bahwa tidak boleh menggunakan siwak pada saat berpuasa. Imam Abu Isa At Tirmidzi berkata setelah menyebutkan hadits ini : "Makna hadits ini telah diamalkan oleh para ulama, dimana mereka memandang tidak mengapa seorang yang berpuasa untuk bersiwak namun demikian ada sebagian ulama yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa dengan menggunakan siwak yang beraroma dan siwak yang basah pada siang hari. Adapun Imam Syafi'i beliau memandang tidak mengapa bersiwak baik itu pada pagi hari maupun pada siang hari. Imam Ahmad dan Ishaq telah memakruhkan bersiwak pada waktu siang"

Hadits ini juga telah diriwayatkan oleh Thabrani sebagaimana yang terdapat dalam At Ta'liq Al Mugni dari Abdurrahman bin Ghunaim beliau berkata : Saya telah bertanya kepada Muadz bin Jabal: "Apakah (boleh) saya bersiwak sementara saya berpuasa? Muadz menjawab : Iya. Aku bertanya lagi : "Kapan aku boleh bersiwak?" Beliau menjawab : "Kapan saja baik waktu pagi maupun petang". Saya berkata lagi sesungguhnya sebagian manusia memakruhkannya dengan beralasan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :

[ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ]

"Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari bau kesturi"
Beliau (Mu'adz) berkata : "Maha Suci Allah, beliau telah menyuruh mereka bersiwak karena beliau tahu bahwa mulut orang yang berpuasa pasti memiliki bau (walaupun telah bersiwak)". Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya At Talkhish Al Habir (2/202 no 908) mengatakan bahwa riwayat Muadz ini sanadnya baik

Al Albani rahimahullah dalam buku beliau Al Irwa' (1/107) mengatakan setelah beliau menyebut perkataan Syafi'i : "Dan inilah pendapat yang benar berdasarkan keumuman dalil, seperti hadits yang akan disebutkan selanjutnya yang menganjurkan bersiwak setiap shalat dan setiap wudhu, pendapat ini pula yang dipegangi oleh Bukhari dalam kitab Shohinya walaupun beliau mengisyaratkan akan kelemahan hadis Amir ini"


5- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : اشْتَكَتْ عَيْنِي أَفَأَكْتَحِلُ وَأَنَا صَائِمٌ ؟ قَالَ : نَعَمْ

5. Dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu berkata : "Seseorang datang menghadap Nabi shallallohu alaihi wasallam seraya berkata : "Mataku sedang sakit apakah boleh aku bercelak sementara aku berpuasa ?" Beliau menjawab : "Iya" [ HR.Tirmidzi (726 )]

Penjelasan :

Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini beliau berkata : "Hadits Anas adalah hadits yang isnadnya tidak kuat dan tidak ada satupun hadits shohih dari Nabi shallallohu alaihi wasallam dalam masalah ini, pada hadits ini ada rowi Abu 'Atikah sedangkan dia seorang yang dilemahkan"

Abu Atikah yang dimaksud adalah Thorif bin Salman dan ada yang mengatakan Salman bin Thorif, dia telah meriwayatkan hadits dari Anas. Abu Hatim mengatakan tentangnya: "Dzahibul Hadits" (haditsnya pergi/ditinggalkan). Imam Bukhori mengatakan : Munkarul Hadits, Nasai mengatakan dia bukan seorang yang tsiqoh (terpercaya). Daraqutni berkata : dhoif (lemah) . Bahkan Sulaimani menyebutkan orang tersebut sebagai salah satu dari yang dikenal sebagai pemalsu hadits. Adapun Ibnu Hajar beliau menilai sebagai dhoif dan menganggap hukum yang ditetapkan Sulaimani berlebihan.

Tirmidzi menuturkan : "Para ulama telah berbeda pendapat tentang hukum bercelak bagi orang yang berpuasa; sebagian ulama seperti Sufyan, Ibnu Mubarak, Ahmad dan Ishaq memakruhkannnya dan sebagian ulama yang lain memberikan keringanan akan kebolehannya dan ini adalah pendapat Imam Syafi'i"

Dan -Insya Allah- pendapat Imam Syafi'i inilah yang benar, karena Abu Daud telah meriwayatkan dalam sunannya dengan sanad yang hasan bahwa Anas radhiyallohu anhu pernah bercelak pada saat berpuasa. Yang serupa dengan ini hukum tetes mata hal ini juga tidak mengapa karena mata bukanlah pengantar untuk ke perut. Tetes dan celak keduanya tidak termasuk makanan dan minuman serta tidak mengambil hukum keduanya. (Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 10 : 250-253)


6- حديث أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا : [ اغْزُوْا تَغْنَمُوْا وَصُوْمُوْا تَصِحُّوْا وَسَافِرُوْا تَسْتَغْنُوْا ] ( رواه الطبراني في الأوسط وأبو نعيم في الطب النبوي كما في المقاصد الحسنة )

6. Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu secara marfu' : "Berperanglah (berjihad) niscaya kalian akan mendapatkan ghanimah, puasalah niscaya kalian akan sehat dan bersafarlah niscaya kalian akan berkecukupan" [ HR.Thabrani dalam Al Mu'jam Al Awsath (8/174 no.8312) dan Abu Nu'aim dalam Ath Thib An Nabawi sebagaimana yang disebutkan dalam Al Maqashid Al Hasanah ( hal 282 ) ]

Penjelasan :

Hadits ini diriwayatkan oleh dua imam di atas dari Muhammad bin Sulaiman bin Abu Daud Al Harrani dari Zuhair bin Muhammad dari Suhail bin Abu Sholih dari bapaknya dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu. Thobrani berkata : Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dengan lafazh seperti ini kecuali Zuhair"

Zuhair yang beliau maksudkan adalah Abul Mundzir Al Khurasani; Abu Bakar bin Al Atsram berkata : Saya telah mendengar Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad-pen) dan dia menyebutkan riwayat penduduk Syam dari Zuhair bin Muhammad, beliau berkata : "Mereka meriwayatkan darinya hadits-hadits mungkar"

Abu Hatim berkata : "Kedudukannya adalah shidq(jujur) akan tetapi hapalannya buruk, hadits yang diriwayatkannya di Syam lebih mungkar dari haditsnya di Irak disebabkan hapalannya yang jelek, maka apa yang diriwayatkannnya lewat hapalannya banyak kesalahan-kesalahannya dan apa yang diriwayatkan dari tulisannya maka baik"

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Dia telah bermukim di Syam kemudian Hijaz, dia seorang yang tsiqoh (terpercaya) akan tetapi riwayat penduduk Syam darinya tidak mustaqimah (lurus) maka dia dilemahkan disebabkan hal tersebut"

Dan hadits ini salah satu dari riwayat penduduk Syam karena Muhammad bin Sulaiman Al Harroni (berasal dari Syam) dan kelemahan lain dari hadits ini adalah guru dari Thobrani yaitu Musa bin Zakariyya; dia seorang yang matruk (ditinggalkan)

Imam Ash Shoghani menilai hadits ini sebagai hadits palsu, karena itu beliau memasukkannya dalam kitab beliau Al Maudhu'at (72). Namun penilaian ini dianggap berlebihan oleh Syaikh Al Albani, yang tepat kita katakan hadits ini lemah namun tidak sampai derajat maudhu' (palsu). Wallahu A'lam. Lihat : Silsilah Al Ahadits Adh Dho'ifah (1/420 no.253)

7- عن أبي مسعود الغفاري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ذات يوم وقد أهل رمضان فقال : [ لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا رَمَضَانُ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ يَكُوْنَ السَّنَةَ كُلَّهَا ... إِنَّ الْجَنَّةَ لَتَزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ الْحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ ...]

7. Dari Abu Mas'ud Al Ghifari radhiyallohu anhu berkata : Saya telah mendengar Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda pada suatu hari ketika bulan Ramadhan telah datang : "Seandainya para hamba mengetahui apa (hakikat) bulan Ramadhan maka tentu ummatku menginginkan Ramadhan itu sepanjang tahun,…sesungguhnya surga berhias untuk bulan Ramadhan di setiap penghujung tahun ke tahun berikutnya ….."
[ HR.Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya (1886), Ibnul Jauzi dalam kitab Al Maudhu'at (2/547) dan Abu Ya'la dalam Musnadnya sebagaimana yang disebutkan dalam Al Mathalib Al Aliyah ]

Penjelasan :

Para Imam tersebut meriwayatkan hadits ini dari jalur Jarir bin Ayyub Al Bajali dari Sya'bi dari Nafi' bin Burdah dari Abu Mas'ud Al Ghifari.
Kedudukan hadits ini palsu, penyebabnya adalah Jarir bin Ayyub; Ibnu Hajar menyebutkan dalam Lisanul Mizan (2:101) bahwa dia terkenal akan kelemahannya, kemudian beliau menukil perkataan Abu Nu'aim tentangnya bahwa dia pernah memalsukan hadits. Bukhori berkata : Munkarul Hadits dan Nasai mengatakan : Matruk (ditinggalkan). Ibnu Jauzi juga menilai hadits ini sebagai hadits yang palsu. Ibnu Khuzaimah sendiri meragukannya sehingga beliau berkata : "Jika hadits ini benar karena hati ini meragukan Jarir bin Ayyub Al Bajali"

8 - (نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ )
"Tidurnya orang yang berpuasa merupakan ibadah "

Penjelasan :

Hadits ini dilemahkan oleh Imam Al Iraqi dalam kitab beliau Al Mughni 'An Hamli Al Asfar fii Takhrij Maa fil Ihyaa minal Akhbaar (buku yang mentakhrij hadits-hadits yang termuat dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al Ghazali), beliau berkata : "Hadits ini kami riwayatkan dari kitab Amali Ibnu Mandah dari riwayat Ibnu Mughirah Al Qawwas dari Abdullah bin Umar dengan sanad yang lemah. Mungkin yang dimaksud (oleh Ibnu Mandah) adalah Abdullah bin 'Amr bukan Ibnu Umar, karena para ulama menyebutkan bahwa riwayat Ibnul Mughirah hanyalah dari Abdullah bin 'Amru. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Ad Dailami dalam Musnad Al Firdaus dari hadits Abdullah bin Abu Awfa dan pada sanadnya ada Sulaiman bin 'Amr An Nakha'i salah seorang pendusta " (Al Mughni 'an Hamlil Asfar 1/182)

Matan hadits ini juga telah disalahgunakan oleh banyak masyarakat awam sehingga pada waktu berpuasa kebanyakan mereka hanya isi dengan tidur, bahkan diantara mereka ada yang tidak melaksanakan beberapa sholat wajib dan nanti terjaga saat menjelang buka puasa.Wallahu Musta'an.

Bahan Bacaan :

1. Ahadits Dho'ifah Musytahiroh fii Ramadhan, Syaikh Muhammad Al Hamud An Najdi, makalah yang dimuat dalam majalah Al Furqan edisi 117-tahun 1420 H, Terbitan Ihya At Turots-Kuwait

2. Silsilah Al Ahadits Adh Dho'ifah, Al Muhaddits Al Albani, Maktabah Al Ma'arif-Riyadh, Cetakan pertama tahun 1412 H

3. Shifatu Ash Shaum An Nabi shallallohu alaihi wasallam Fii Ramadhan, Syaikh Salim Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan, Al Maktabah Al Islamiyah–Yordania, Cetakan kelima tahun 1413 H

4. Al Maudhu'at, Ibnul Jauzi, Tahqiq : DR. Nuruddin Jaylar, Penerbit Adhwaa As Salaf-Riyadh, Cet. Pertama tahun 1418 H

5. Maudhu'at Ash Shoghoni, Abul Fadhail Hasan bin Muhammad Ash Shaghani, Daarul Ma'mun-Damaskus, Tahqiq: Najm Abdurrahman Khalaf, Cetakan Kedua tahun 1405 H

Sumber : markazassunnah.blogspot.com

Membuat Belajar Matematika Menjadi Bergairah

Membuat Belajar Matematika Menjadi BergairahHasil Penelitian The Third International Mathematic and Science Study Repeat (TIMSS-R) pada tahun 1999 menyebutkan bahwa di antara 38 negara, prestasi siswa SMP Indonesia berada pada urutan 34 untuk matematika. Sementara hasil nilai matematika pada ujian Nasional, pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu terpaku pada angka yang rendah. Keadaan ini sangat ironis dengan kedudukan dan peran matematika untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan, mengingat matematika merupakan induk ilmu pengetahuan dan ternyata matematika hingga saat ini belum menjadi pelajaran yang difavoritkan.

Rasa takut terhadap pelajaran matematika (fobia matematika) sering kali menghinggapi perasaan para siswa dari tingkat SD sampai dengan SMA bahkan hingga perguruan tinggi. Padahal, matematika itu bukan pelajaran yang sulit, dengan kata lain sebagaimana dituturkan oleh ahli matematika ITB Iwan Pranoto, setiap orang bisa bermatematika. Menurut Iwan, masalah fobia matematika kerap dianggap sangat krusial dibandingkan bidang studi lainnya karena sejak SD bahkan TK, siswa sudah diajarkan matematika. �Kalau fisika, baru diajarkan di tingkat SMP. Karena itu, fobia fisika menjadi tidak begitu krusial dibandingkan matematika,�. Apalagi Kimia yang baru diajarkan ketika tingkat SMA.

Fobia Matematika

Pernah dalam suatu diskusi ada pertanyaan �unik�. Apa kepanjangan dari Matematika? Dalam benak saya, apa ada kepanjangan Matematika, selama ini yang diketahui kebanyakan orang, Matematika adalah tidak lebih dari sekedar ilmu dasar sains dan teknologi yang tentunya bukan merupakan singkatan. Setelah berfikir agak lama hampir mengalami kebuntuan dalam berfikir akhirnya Nara Sumber menjelaskan, bahwa Matematika memiliki kepanjangan dalam 2 versi. Pertama, Matematika merupakan kepanjangan dari MAkin TEkun MAkin TIdak KAbur, dan kedua adalah MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan. Dua kepanjangan tersebut tentunya sangat berlawanan.

Untuk kepanjangan pertama mungkin banyak kalangan yang mau menerima dan menyatakan setuju. Karena siapa saja yang dalam kesehariannya rajin dan tekun dalam belajar matematika baik itu mengerjakan soal-soal latihan, memahami konsep hingga aplikasinya maka dipastikan mereka akan mampu memahami materi secara tuntas. Karena hal tersebut maka semuanya akan menjadi jelas dan tidak kabur. Berbeda dengan kepanjangan versi kedua, tidak dapat dibayangkan jika kita semakin tekun dan ulet belajar matematika malah menjadi tidak karuan alias amburadul. Mungkin kondisi ini lebih cocok jika diterapkan kepada siswa yang kurang berminat dalam belajar matematika (bagi siswa yang memiliki keunggulan di bidang lain) sehingga dipaksa dengan model apapun kiranya agak sulit untuk dapat memahami materi matematika secara tuntas dan lebih baik mempelajari bidang ilmu lain yang dianggap lebih cocok untuk dirinya dan lebih mudah dalam pemahamannya.

Terkait dengan rasa apriori berlebihan terhadap matematika ditemukan beberapa penyebab fobia matematika di antaranya adalah yang mencakup penekanan belebihan pada penghafalan semata, penekanan pada kecepatan atau berhitung, pengajaran otoriter, kurangnya variasi dalam proses belajar-mengajar matematika, dan penekanan berlebihan pada prestasi individu. Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal ini, peran guru sangat penting. Karena begitu pentingnya peran guru dalam mengatasi fobia matematika, maka pengajaran matematika pun harus dirubah. Jika sebelumnya, pengajaran matematika terfokus pada hitungan aritmetika saja, maka saat ini, guru-guru harus meningkatkan kemampuan siswa dalam bernalar dengan menggunakan logika matematis.

Sekedar diketahui bahwa matematika bukan hanya sekadar aktivitas penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian karena bermatematika di zaman sekarang harus aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan hidup modern. Karena itu, materi matematika bukan lagi sekadar aritmetika tetapi beragam jenis topik dan persoalan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Dari aspek psikologi, menurut psikolog Alva Handayani, peranan orang tua pun dibutuhkan untuk mengatasi fobia matematika. Menurutnya, mengajar matematika bukan sekadar mengenal angka dan menghafalnya namun bagaimana anak memahami makna bermatematika. Orang tua harus memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi, observasi dalam keadaan rileks. Para orang tua tidak perlu khawatir dengan kemampuan matematika para putra-putri mereka. Yang terpenting dalam menumbuhkan cinta anak pada matematika adalah terbiasanya anak menemukan konsep matematika melalui permainan dalam suasana santai di rumah dalam rangka mempersiapkan masa depan anak.

�Jika anak sering menemukan orang tua menggunakan konsep matematika, anak akan menangkap informasi tersebut dan akan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, pengaturan uang saku dan tabungan hingga pengaturan jadwal kereta api atau penerbangan,�

Tetapi, yang penting untuk diketahui dan dijadikan pegangan adalah bahwa matematika itu merupakan ilmu dasar dari pengembangan sains (basic of science) dan sangat berguna dalam kehidupan. Dalam perdagangan kecil-kecilan saja, orang dituntut untuk mengerti aritmetika minimal penjumlahan dan pengurangan. Bagi pegawai/karyawan perusahaan harus mengerti waktu/jam, Bendaharawan suatu perusahaan harus memahami seluk beluk keuangan. Ahli agama, politikus, ekonom, wartawan, petani, ibu rumah tangga, dan semua manusia �sebenarnya� dituntut menyenangi matematika yang kemudian berupaya untuk belajar dan memahaminya, mengingat begitu pentingnya dan banyaknya peran matematika dalam kehidupan manusia.

Fakta menunjukkan, tidak sedikit siswa sekolah yang masih menganggap matematika adalah pelajaran yang bikin �stress�, membuat pikiran bingung, menghabiskan waktu dan cenderung hanya mengotak-atik rumus yang tidak berguna dalam kehidupan. Akibatnya, matematika dipandang sebagai ilmu yang tidak perlu dipelajari dan dapat diabaikan. Selain itu, hal ini juga didukung dengan proses pembelajaran di sekolah yang masih hanya berorientasi pada pengerjaan soal-soal latihan saja. Hampir belum pernah dijumpai proses pembelajaran matematika dikaitkan langsung dengan kehidupan nyata. Menyikapi hal ini, menurut hemat penulis dalam rangka menyelamatkan �nyawa� matematika, maka satu hal yang segera dilakukan adalah bagaimana membuat siswa senang untuk belajar matematika?

Peran Guru dalam Pembelajaran Matematika

Secara umum, tugas guru matematika di antaranya adalah: Pertama, bagaimana materi pelajaran itu diberikan kepada siswa sesuai dengan standar kurikulum. Kedua, bagaimana proses pembelajaran berlangsung dengan melibatkan peran siswa secara penuh dan aktif, dalam artian proses pembelajaran yang berlangsung dapat berjalan dengan menyenangkan. Merupakan tantangan bagi guru matematika untuk senantiasa berpikir dan bertindak kreatif di tengah kegelisahan dan keterpurukan nasib guru. Namun, penulis yakin masih banyak pendidik yang menanggapi ke�lesu�an hidup tersebut dengan sikap optimistik dan penuh tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban sebagai guru.

Masalah pada tahap pertama, yakni menyampaikan materi sesuai dengan tuntutan standar kurikulum. Pembelajaran matematika, yang dirumuskan oleh National Council of Teachers of Matematics atau NCTM (2000) menggariskan, bahwa siswa harus mempelajari matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

Untuk mewujudkan hal itu, sebagaimana dalam tulisan Yaniawati (2006) dirumuskan ada lima tujuan umum pembelajaran matematika, yaitu: pertama, belajar untuk berkomunikasi (mathematical communication); kedua, belajar untuk bernalar (mathematical reasoning); ketiga, belajar untuk memecahkan masalah (mathematical problem solving); keempat, belajar untuk mengaitkan ide (mathematical connections); dan kelima, pembentukan sikap positif terhadap matematika (positive attitudes toward mathematics). Semua itu lazim disebut mathematical power (daya matematika).

Sedangkan masalah pada tahap kedua, menetapkan model pembelajaran yang efektif. Pada dasarnya atmosfer pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga komponen pembelajaran utama, yakni siswa, kompetensi guru, dan fasilitas pembelajaran. Ketiga komponen tersebut pada akhirnya bermuara pada area proses dan model pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran matematika antara lain memiliki nilai relevansi dengan pencapaian daya matematika dan memberi peluang untuk bangkitnya kreativitas guru. Kemudian berpotensi mengembangkan suasana belajar mandiri selain dapat menarik perhatian siswa dan sejauh mungkin memanfaatkan momentum kemajuan teknologi khususnya dengan mengoptimalkan fungsi teknologi informasi.

Berorientasi pada Siswa

Agar tujuan pembelajaran Matematika dapat tercapai maksimal, maka harus diupayakan agar semua siswa lebih mengerti dan memahami materi yang diajarkan daripada harus mengejar target kurikulum tanpa dibarengi pemahaman materi. Dalam prakteknya, pembelajaran berorientasi pada siswa ini dapat dilaksanakan dengan cara pendampingan siswa satu persatu atau per kelompok. Penjelasan materi dan contoh pengerjaan soal diberikan secara klasikal di depan kelas. Kemudian ketika siswa mengerjakan latihan soal guru (beserta asistennya) keliling untuk memperhatikan siswa secara personal. Tugas guru adalah membantu siswa agar dapat menyelesaikan tugasnya sampai benar. Siswa yang pandai akan mendapat perhatian yang kurang sementara siswa yang lemah akan mendapat perhatian yang lebih intensif.

Hal yang paling esensial ketika mendampingi (terutama bagi yang berkemampuan rendah) adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa bahwa saya (baca: siswa) bisa dan mampu mengerjakan soal. I can do it. Guru harus berusaha menghilangkan persepsi dalam diri siswa bahwa matematika itu sulit dan mengusahakan agar siswa memiliki pengalaman bahwa belajar matematika itu mudah dan menyenangkan. Kiranya model pembelajaran ini dapat berjalan efektif jikalau kapasitas siswa setiap ruang adalah berkisar 15 � 20 siswa. Tetapi jika lebih, maka pembelajaran model yang demikian tetap dapat berlangsung namun harus dibantu oleh beberapa guru atau asisten.

Belajar Matematika yang Menyenangkan

Usaha selanjutnya adalah mengusahakan bagaimana agar suasana ruang kelas yang digunakan untuk belajar siswa adalah kondusif. Dengan kata lain tata letak perabot kelas tidak harus diatur secara �formal�. Sering kita jumpai, ada siswa yang malas belajar ketika harus duduk tenang dan serius. Mereka lebih senang dan nyaman ketika belajar sambil tidur-tiduran di atas karpet. Menyikapi hal ini guru sebaiknya memberi kebebasan kepada siswa untuk belajar atau mengerjakan soal latihan di atas bangku atau di lantai.

Ada juga siswa yang dalam belajarnya harus mendengarkan musik. Memang, musik tidak berkaitan langsung dengan matematika. Musik bukan merupakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Namun musik memainkan peran dalam membantu untuk menciptakan kenyamanan belajar di kelas. Musik hanya merupakan pengiring ketika para siswa mengerjakan soal. Sehingga musik dapat membuat siswa lebih nyaman ketika belajar matematika. Namun, dalam hal ini etika dan menghargai teman lain juga perlu diperhatikan. Rasanya tidak mungkin jika dalam satu kelas tersebut lalu guru memberi kebebasan kepada siswa membawa tape, radio yang berukuran besar. Tapi, hal ini dapat dilakukan misalnya memberi izin kepada siswa untuk menggunakan walkman, atau lainnnya yang penting tidak mengganggu konsentrasi siswa lainnya.

Selain tersebut, dijumpai juga siswa yang senang �ngemil� atau makan-makanan yang ringan seperti permen, kerupuk atau lainnya. Menyikapi siswa yang demikian tentunya guru juga tidak dapat melarang serta merta kepada siswa untuk makan di dalam kelas. Pada intinya, apapun yang dapat menjadikan siswa nyaman dan senang untuk belajar matematika sebaiknya oleh sang guru tidak dilarang secara keras. Berikan kebebasan bergerak dan befikir kepada siswa yang tentunya juga tetap dalam batas-batas kewajaran.

Penutup

Menyelenggarakan pembelajaran matematika secara nyaman dan dapat membuat siswa bergairah untuk mengikutinya merupakan hal yang sudah tidak dapat ditawar lagi untuk menuju bangsa yang berkemampuan unggul dalam Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan mempraktekkan strategi pembelajaran di atas diharapkan �nyawa� matematika dapat terselamatkan. Dengan kata lain, siswa tidak lagi terjangkit penyakit fobia matematika. Dengan demikian siswa menjadi senang untuk belajar matematika yang tentunya akan berdampak pada penguasaan dan pemahaman terhadap materi matematik yang merupakan ilmu dasar untuk pengembangan sains dan teknologi.
Sabtu, 29 Agustus 2009
Tausyah Jelang Buka Puasa oleh Ust. Sudarisman Ahmad
Kamis (27/8 ) menjelang buka puasa Ust. Sudarisman Ahmad memberikan tausiyah di hadapan keluarga besar Ma'had Kafila. Berikut ringkasan tausiyah beliau :

Manisnya iman dapat kita rasakan jika kita benar-benar melakukan perenungan yang mendalam. Sebagaimana terkabar dalam sebuah hadits, seseorang dapat merasakan kelezatan iman dalam 3 perkara :

1. Hendaklah Allah dan Rasulnya lebih ia cintai dari yang lainnya.

Ibnu Taimiyah, Imam Hambal, dan banyak 'ulama disiksa dalam penjara : mereka justru merasakan sebagai sebuah kenikmatan.

Sehingga Ibn Taimiyah berkata :
"Silahkan apapun yang akan dilakukan oleh musuh-musuhku,
aku, surgaku ada di dadaku,
kemanapun aku pergi,
surga senantiasa ada didadaku.
Ketika aku dipenjara,
aku merasa sedang berkhalwah,
kalaupun musuhku membunuhku,
aku mendapat syahid,
ketika mereka mengeluarkanku dari negara,
aku sedang rihlah."

2. Mencintai seseorang kecuali karena Allah SWT.

Hanya karena Iman dan Islam kita berkumpul dari berbagai daerah. Karena Islam telah memanggil, agar kita berkhidmah untuk Islam, untuk Ilmu, untuk Qur'an dan untuk Hadits.

Katakan :
"Aku datang di Ma'had Kafila karena Islam memanggilku, untuk meninggikan Islam."

Khajraj dan Aus yang semula berperang dapat berkumpul karena Islam padahal semula mereka saling berperang,
Anshar dan Muhajirin pun dapat saling bersinergi.

3. Takut kembali kepada kekufuran, sebagaimana takut dilemparkan ke dalam api neraka.

Kita telah dibebaskan dan diselamatkan dari kehidupan jahiliah seperti : bermain di rumah, menonton televisi yang meracuni, bermaian video game.

Islam sudah membedakan, apakah Islam sama dengan non-Islam?
Kebaikan dari Islam, meninggalkan hal-hal yg tdk bermanfaat.

Silahkan kita kembali renungkan, apakah kita sudah merasa untuk takut untuk kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan?